FEATURE SENI TERBARU 

Siapa takut pada Pramoedya?

Mengapa kurikulum sekolah di Indonesia tidak membahas karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Sebaliknya malah diajarkan di sekolah Australia, Malaysia, Singapura dan Amerika. Apakah Indonesia takut pada karya sastra?

Who's Affraid of Pramoedya menjadi tajuk diskusi dalam Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) yang digelar (4/10/2012) lalu.


Festival yang digelar di Ubud ini mengajak sekitar 120 orang penulis dari seluruh dunia menyelami karya Pramoedya Ananta Toer yang ternama: “Bumi Manusia”.

Satu tahun sekali, desa Ubud di Provinsi Bali menggelar even mengapresiasi karya sastra yaitu Ubud Writers & Readers Festival (UWRF). Festival sudah memasuki tahun kesembilan dalam mengabadikan karya sastra Indonesia.

Pada tahun ini, even UWRF yang digelar 3-7 Oktober 2012 menyajikan tema Bumi Manusia. Tujuannya mengembalikan ingatan bahwa karya agung dalam sastra dunia pernah ada di negeri ini. Selalu digaungkan agar menjadi pemahaman dan kebijaksanaan masyarakat dunia.

Catatan harapan pun tersirat dari Hari Untoro Drajat. Seorang Staf Ahli di Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Harapan Hari memang tersirat dalam pembukaan acara UWRF pada 3 Oktober di Puri Ubud. Yang memang menginginkan tema dari Bumi Manusia adalah sebuah inspirasi dari karya agung Pramoedya Ananta Toer.

Inspirasi yang dalam dari seorang sastrawan sejarah diharapkan bisa menemani even bergengsi ini. “Diskusi dan gagasan dengan ide yang menarik selama proses Ubud Writers Festival ini sebaiknya dapat mengkontribusi terhadap budaya di Indonesia. Karena karya Pram selalu menitikkan pada kebudayaan masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Max Lane, seorang penulis Australia, menganggap salah satu penyebabnya karena karya-karya Pramoedya sempat melewati fase pemisahan dari masyarakat Indonesia.

Sekitar tahun 1970, operasi ideologisasi rezim Soeharto tengah berlangsung. Pada masa ini rezim memberangus habis karya sastra yang dianggap beraliran komunis. Termasuk tulisan Pramoedya.

Menurut dia, anggapan atau stigma yang sistemik, ternyata membangun batas pemisah antara masyarakat atas karya sastra yang berpengetahuan. Dan, sayangnya Bumi Manusia, sempat mengalami nasib itu.
Lane memang mempelajari banyak hal tentang gerak sejarah di Indonesia. Dia berpegang teguh pada ideologi sosialisme untuk memperkaya perspektif berpikirnya.

Tantangan lain mempopulerkan karya sastra Pramoedya Ananta Toer adalah visualitas cerita. Ternyata benar. Visualitas sebuah karya sastra sejarah bukan perkara mudah. Tidak gampang mengeksplorasi lalu menuangkannya dalam bentuk yang lain.  

Riri Riza misalnya. Demi menemukan kisah yang pas dalam film besutannya yang berjudul Bumi Manusia, dia membutuhkan 2,5 tahun. Hingga kini, karya itu belum juga kelar.

Seting latar belakang kisah Minke saat jatuh cinta dengan budaya barat, dalam karya Pramoedya ini, terjadi sekitar tahun 1890. Tentu saja, kreasi apik dari besutan Riri membutuhkan banyak piranti dan pernik yang mahal. Riri, yang menggarap film itu bersama Mira Lesmana, membutuhkan dana sekitar USD 2 juta hingga USD 3 juta.

Padahal, mengeksplorasi karya sastra melalui film adalah jalan yang baik ketika masyarakat mulai jenuh membaca. Film menjadi pilihan metode memvisualkan karya sastra dengan gamblang. Tentu ini menjadi tantangan bagi Riri.

Metode visual dengan garapan film, sungguh luar biasa jika memang menjadi model pengenalan karya sastra. Apalagi saat daya baca anak muda sangat melemah. Iswandi Pratama seorang penulis naskah drama Teater Satu Lampung membenarkan hal ini.

Menurut Iswandi, penelitian yang dilakukan Taufik Ismail pada tahun 2000 hingga 2005 menunjukkan satir dari minat masyarakat akan karya sastra. Hasilnya, nol persen minat baca buku sastra oleh remaja kelompok Sekolah Menengah Atas. Metode menyuguhkan karya sastra seakan menjadi tantangan kreatif.

UWRF 2012 yang dibesut tiga orang kurator seperti Cok Sawitri, Acep Zamazam Noor dan Saut Poltak Tambunan mengambil pijakan ini. Bagaimana mempopulerkan kembali dari karya agung seorang sastrawan sejarah. Namun tanpa memberikan bingkai stigma apapun.

Andre Abeng | Ninin Damayanti

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Berita Sebelumnya

Mengundang para penulis seni mengirim artikel dan foto even seni melalui email redaksi@lingkarberita.com