FEATURE SENI TERBARU 

Perang Topat Hindu-Muslim di Lombok

foto oleh Rasinah Abdul Igit
Ini adalah cerita tentang perang. Namun perang yang merupakai simbol perdamaian. Perang Topat, begitu mereka menyebutnya. ‘Perang’ antara umat Hindu dan umat Islam di Lombok ini menjadi penanda hadirnya jiwa ksatria dan puji syukur di lokasi itu. Senjatanya pun unik, ketupat!


Gazali nampak sibuk dan lebur dalam keramaian  prosesi Perang Topat yang diadakan  Sabtu (10/12) sore, di Taman Lingsar, Lombok Barat. Mendung tak mengurungkan niatnya bergabung bersama ribuan orang lain untuk datang ke arena Perang Topat. Mereka sangat antusias. Tak ada senjata berupa tombak, parang atau sejenisnya. ‘Senjata’ yang digunakan dalam perang itu akan dibagikan di arena.

Bila perang selama ini identik dengan kekerasan dan senjata, juga jatuhnya korban jiwa, tidak dalam Perang Topat di Lombok, Nusa Tenggara Barat ini. Pelaksanaan tradisi sebagai simbol perdamaian antara Hindu dan Islam dilakukan dengan riang gembira. Ketupat, makanan berbahan dasar beras dan dibungkus dengan daun kelapa muda (baca: janur) yang digunakan sebagai senjata pun tidak sampai melukai peserta Perang Topat.

Puji syukur

Pelaksanaan Perang Topat berlangsung setiap bulan purnama ke tujuh, dalam penaggalan Suku Sasak, Lombok. Tahun ini jatuh pada tanggal 10 Desember 2011. Ribuan umat Muslim dan Hindu suku Sasak berbondong-bondong memadati Taman Lingsar untuk menggelar prosesi Upacara Puji Syukur atas limpahan berkah dari Sang Pencipta yang mereka terima dan nikmati selama ini.

Dengan iringan musik tradisional,  berbagai sesaji yang kebanyakan berupa ketupat, mulai berdatangan. Juga makanan tradisional khas Suku Sasak, seperti timbung (jajanan dari ketan dan dimasak dalam bambu muda), buah-buahan hasil bumi masyarakat Lingsar, berpadu dengan berbagai perangkat upacara.

Sesaji itu ditata seindah mungkin, dan terkesan sangat tradisional. Lalu, diarak tujuh kali mengelilingi bangunan suci atau akrab disebut Kemaliq. Sebuah bangunan yang dikeramatkan, karena terdapat mata air suci. Tujuh Putaran melambangkan 7 lubang dalam tubuh manusia, yang dipercaya sebagai sumber kehidupan. Lubang mulut, kemaluan, dua lubang hidung, mata dan satu lubang ubun-ubun (ke kepala).

Sesaji itu akan dikumpulkan dalam Kemaliq, untuk kemudian didoakan bersama-sama oleh umat muslim maupun Hindu.  Baik umat Muslim atau pun Hindu, duduk bersama dan tenggelam dalam doa-doa pada Sang Pencipta. Usai berdoa, Pemangku dan Kyai, memercikkan air suci yang diambil dari bangunan Kemaliq. Percik air suci juga menetes ke sesajian, yang akan digunakan untuk berperang.

Waktu berperang pun tiba. Diiringi dentuman musik Tradisional dari gendang beleq, para pemuda pun menyebarkan ‘amunisi’ ketupat dengan cara menaiki tembok bangunan Kemaliq.  Begitu ketupat pertama dilempar, ribuan orang berebut mengambilnya dan pecahlah Perang Topat.

Anggota Suku Sasak yang beragama Muslim berada di bagian Selatan, sementara umat Hindu di bagian utara. Ketupat pun berterbangan. Mengenai kepala, punggung, dada orang-orang yang ada di arena peperangan. Korban yang terkena ‘tembakan’, malah tertawa, lalu balas melempar.

Abad 16

Jalaludin Arzaki, budayawan Lombok mengatakan, perang topat merupakan tradisi Suku Sasak yang beragama Islam, dan orang Bali yang berada di Lombok. Tradisi ini tak ada kaitannya dengan agama, namun semata-mata merupakan tradisi peninggalan leluhur untuk menjaga silaturahmi. Sejarah itu bermula sekitar 350 tahun silam atau tahun 1600 (abad 16). Saat  pemerintahan Raja Selaparang membangun Kemaliq.

Abad 16 dikenal adanya sosok Datu Sumilir, atau Raden Mas Kertajagat dan kemudian berubah namanya setelah naik Haji menjadi yaitu Abdul Malik. Datu Sumilir dipercaya sebagai orang suci. Menurut masyarakat Suku Sasak, Abdul Malik disayangi oleh masyarakat baik dari kalangan Muslim atau Hindu. Di Taman Lingsarlah, Datu Sumilir atau Abdul Malik moksa (hilang tanpa jejak). Sebuah tongkat milik Abdul Malik atau Datu Sumilir itu ditemukan.

“Melalui tongkat itu jugalah, menyembur mata air yang kemudian dikeramatkan oleh masyarakat Suku Sasak,” kata Sahnan, salah seorang pemerhati tradisi di Lombok.  Warga di Lingsar mengungkapkan rasa kebahagian mereka dengan membuat ketupat, dan mengekspresikannya dengan saling lempar.  Uniknya, baik Muslim atau Hindu, masing-masing memiliki ritual berbeda sebelum Perang Topat. Pujawali dan odalan dilakukan umat Hindu, sementara Muslim melakukan nyiuan atau perayaan seribu hari dengan berzikir di rumah Mangku Kemaliq.

Sebuah perang yang indah,..

Inan Alif | Mataram

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Berita Sebelumnya

Mengundang para penulis seni mengirim artikel dan foto even seni melalui email redaksi@lingkarberita.com